Status aktivitas Gunung Semeru kembali menjadi sorotan setelah otoritas vulkanologi resmi menaikkan levelnya ke Level IV (Awas). Peningkatan status ini terjadi menyusul rangkaian erupsi dan aktivitas kegempaan yang melonjak drastis dalam waktu singkat.
Menurut laporan terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, Kamis (20/11), petugas pengamat Yadi Yuliandi menyampaikan bahwa hanya dalam rentang enam jam—mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB—tercatat 32 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 3 hingga 16 mm. Durasi setiap gempa berlangsung cukup lama, berkisar 69 sampai 108 detik.
Selain gempa guguran, Semeru juga menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi. Dalam periode yang sama, tercatat 25 kali gempa letusan dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi 71–141 detik. Aktivitas lain termasuk satu gempa embusan serta satu gempa tektonik jauh yang amplitudonya mencapai 30 mm.
Secara visual, kondisi gunung dilaporkan terlihat jelas pada beberapa waktu sebelum tertutup kabut. Asap dari kawah tidak terdeteksi, dan cuaca cenderung mendung dengan angin bergerak pelan ke arah utara, tenggara, dan selatan.
Peningkatan aktivitas ini menyebabkan PVMBG menetapkan Semeru dalam status Awas sejak Rabu (19/11) pukul 17.00 WIB. Bersamaan dengan keputusan tersebut, masyarakat diminta mengikuti sejumlah rekomendasi penting demi keselamatan.
PVMBG menegaskan agar warga tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 20 km dari puncak, kawasan yang paling berpotensi diterjang awan panas dan aliran lahar.
Tak hanya itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah, karena area tersebut rawan lontaran batu pijar yang dapat melukai atau membahayakan nyawa.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai—seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat—diimbau tetap siaga terhadap potensi awan panas guguran, lontaran lava, serta lahar yang dapat muncul sewaktu-waktu terutama saat terjadi hujan di puncak gunung.
PVMBG juga memperingatkan agar masyarakat menghindari jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena bila terjadi perluasan aliran, kawasan tersebut merupakan jalur yang paling rentan terdampak.
Dengan meningkatnya aktivitas Semeru, pemerintah dan petugas lapangan terus memantau kondisi secara intensif dan mengimbau warga untuk mematuhi jarak aman serta tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.