Mengapa Penangkapan Maduro oleh AS Membuat Warga Venezuela Bersukacita
Kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ternyata disambut dengan kebahagiaan besar oleh rakyatnya. Operasi penangkapan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 3 Januari 2026, telah mendorong banyak diaspora Venezuela di Negeri Paman Sam untuk tumpah ruah ke jalanan.
Komunitas diaspora Venezuela yang bermukim di AS menyambut berita penangkapan Nicolas Maduro dengan euforia yang luar biasa. Di Florida dan New York, yang merupakan kantung-kantung utama populasi warga Venezuela di AS, kerumunan massa tampak memenuhi jalanan sambil mengibarkan bendera berwarna kuning, biru, dan merah. Untuk jutaan warga yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka akibat krisis ekonomi dan penindasan politik di bawah rezim Maduro, momen ini dianggap sebagai puncak dari penantian yang sangat lama.
“Setelah segala penderitaan yang kami alami, termasuk proses pemilu yang penuh kecurangan, kami merasa sangat senang karena ia akhirnya tertangkap,” tutur Johan Brito (30), seperti dilansir oleh Bloomberg.
Senada dengan pernyataan Brito, Mario Rauseo, seorang warga Venezuela-Amerika yang tinggal di Florida, juga mengungkapkan perasaannya yang lega. Akan tetapi, ia turut mengingatkan bahwa perjuangan yang sesungguhnya belumlah usai.
“Kami gembira Maduro berhasil ditangkap, namun kita perlu tetap tenang sebab masih ada lingkaran dalamnya yang tersisa. Kita harus mengamati bagaimana nanti pemerintahan transisi akan dibentuk,” imbuhnya.
Meskipun Maduro kini telah berada dalam tahanan AS di Manhattan, kondisi internal Venezuela sendiri masih diselimuti ketidakpastian. Presiden AS, Donald Trump, sempat mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki niat untuk menempatkan pasukan pendudukan secara permanen, melainkan akan berkolaborasi dengan figur-figur yang masih berada di Caracas demi menjaga stabilitas industri minyak dan ketertiban umum.
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang kini mengambil alih kendali sementara pemerintahan, mengecam operasi penangkapan tersebut sebagai tindakan “biadab” dan “penculikan”. Yang menarik, Trump menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Rodríguez demi “memulihkan Venezuela,” sebuah langkah yang kemudian memicu perdebatan sengit di antara kubu oposisi Venezuela yang dipimpin oleh María Corina Machado.
Pemerintah AS menegaskan bahwa prioritas utama pasca-penangkapan Maduro adalah menghidupkan kembali sektor industri minyak Venezuela yang kini luluh lantak. Trump berkeyakinan bahwa dengan terciptanya kondisi keamanan dan peluang kerja yang baru, warga Venezuela yang saat ini tersebar di berbagai negara akan kembali pulang dalam jumlah signifikan. Kendati demikian, para pengamat internasional telah melayangkan peringatan mengenai potensi risiko instabilitas apabila proses transisi kekuasaan tidak ditangani dengan sangat hati-hati.
Pada titik ini, dukungan militer Venezuela terhadap Rodríguez menjadi penentu krusial apakah negara itu akan terjerumus ke dalam kekacauan yang lebih dalam atau justru bergerak menuju pemulihan yang telah dinanti-nantikan.
**Prospek Masa Depan Venezuela Tetap Buram**
Ketika Maduro bersama istrinya dibawa menuju New York City untuk menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba dan senjata, masa depan Venezuela masih diselimuti ketidakpastian. Trump menyatakan bahwa AS akan mengambil alih pengelolaan negara tersebut – termasuk mengelola cadangan minyaknya – hingga pengganti permanen bagi Maduro dapat ditetapkan.
Akan tetapi, menurut beberapa warga Venezuela yang diwawancarai oleh BBC, bahkan bagi mereka yang merasa bersyukur atas lengsernya Maduro, masih tersisa banyak kekhawatiran dan ketidakpastian. Dina, seorang penduduk dari Ibu Kota Venezuela, Caracas, mengungkapkan bahwa ia tidak terlalu menaruh kepercayaan pada sosok Trump.
“Dia bisa mengatakan sesuatu hari ini, lalu esok hari ia sudah berubah pikiran,” ujar Dina kepada BBC. “Maksudku, aku tidak terbiasa menganggap serius setiap perkataannya,” tambahnya.
Menurut Dina, satu-satunya poin positif dari apa yang telah diutarakan Trump pasca-penangkapan Maduro adalah janji AS untuk berinvestasi di Venezuela. Ia berharap, hal tersebut dapat menciptakan “situasi ekonomi yang lebih baik” bagi seluruh rakyat Venezuela.
Ancaman bagi siapa saja yang berani berbicara menentang Maduro masih sangat nyata di Venezuela, mengingat beberapa minggu sebelumnya, Majelis Nasional – yang mayoritas anggotanya adalah loyalis Maduro – telah mengesahkan undang-undang yang menetapkan bahwa siapa pun yang menunjukkan dukungan terhadap blokade angkatan laut AS akan dicap sebagai “pengkhianat”.
Jorge, warga Venezuela lainnya, menuturkan bahwa pada hari Jumat, 2 Januari 2026, ia menyaksikan para pengendara sepeda motor dari kelompok *colectivos* – yaitu kelompok paramiliter pro-pemerintah di Venezuela – berkeliaran di jalanan sambil membawa senjata api.
“Kondisi ini membuat kami sedikit merasa takut, bahkan untuk sekadar keluar membeli roti sekarang,” ungkapnya. “Kita hanya bisa berharap yang terbaik dan bersabar,” tambahnya lagi.
Jorge turut mengungkapkan kekhawatirannya mengenai pengaruh Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri, Kehakiman, dan Perdamaian Venezuela, yang merupakan sekutu dekat Maduro. “Dia (Cabello) adalah sosok yang sangat jahat dan penuh dendam,” jelas Jorge. “Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang masih berada di pihaknya. Semoga saja, militer akan berpihak kepada rakyat dan ia akan kehilangan sebagian besar kendalinya,” harapnya.