Praka Satria Taopan Meninggal Ditembak KKB, Proses Evakuasi Jenazah Penuh Rintangan dengan Pengangkutan Sejauh 5 Kilometer
Dalam mengemban amanah mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Praka Satria Taopan telah kehilangan nyawanya saat bertugas.
Sebuah prosesi pemakaman militer diselenggarakan untuk Praka Satria Taopan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Loka Kupang pada Minggu sore, 11 Januari 2026.
Acara penghormatan terakhir dari negara tersebut dipersembahkan kepada Praka Satria Taopan, seorang prajurit yang gugur ketika melaksanakan tugas pengabdian di tanah Papua.
Pada Kamis, 8 Januari 2026, Praka Satria Taopan gugur akibat tembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dalam insiden baku tembak di Kampung Yumogaru, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.
Tahapan evakuasi jenazah diwarnai berbagai kendala berat, dari kondisi cuaca yang tidak mendukung hingga keharusan mengangkut jenazah sejauh lima kilometer.
Kolonel Inf Kadek Abriawan, S.I.P., M.H.I., yang menjabat sebagai Komandan Kodim 1604/Kupang, memimpin langsung seremoni pemakaman militer untuk almarhum Praka Satria Taopan.
Di hadapan keluarga serta para pelayat, Dandim menyampaikan, “Kita semua berkumpul di sini untuk menghantar kepergian adik dan saudara kita, almarhum Praka Satria Taopan. Selaku seorang prajurit, beliau telah mempersembahkan seluruh raga dan jiwanya demi kehormatan bangsa dan negara.”
Beliau melanjutkan, “Secara pribadi dan atas nama kesatuan, saya menyampaikan belasungkawa yang paling tulus. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih senantiasa melimpahkan kekuatan, penghiburan, serta ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.”
Evakuasi Jenazah Melintasi Medan yang Berat
Pengambilan jenazah almarhum Praka Satria Taopan dari titik ia gugur di Kampung Yumogaru, Provinsi Papua Pegunungan, menghadapi serangkaian kesulitan.
Dominggus Taopan, ayahanda dari almarhum, menuturkan bahwa kondisi cuaca yang ekstrem dan adanya ancaman dari kelompok bersenjata mengharuskan proses evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian tingkat tinggi.
Dominggus menceritakan kepada POS-KUPANG.COM pada Jumat, 9 Januari 2025, bahwa, “Rekan satu angkatan almarhum di Papua pernah menghubungi saya dan berpesan, ‘Bapak harus banyak berdoa, cuaca tidak kondusif dan KKB masih berada di sekitar lokasi’.”
Jasad almarhum mesti dipikul sejauh kurang lebih lima kilometer dari tempat insiden menuju pos militer terdekat.
Tahapan ini baru berhasil dituntaskan pada sekitar pukul 01.00 WIT. Di pagi hari berikutnya, sebuah helikopter tiba dan menerbangkan jenazah ke Timika.
Ia menjelaskan, “Dari Timika, jenazah kemudian diterbangkan menuju Makassar, dilanjutkan ke Surabaya, sebelum akhirnya dibawa ke Kupang untuk prosesi pemakaman.”
Pribadi yang Ramah dan Penuh Gairah
Dominggus mengenang Praka Satria sebagai individu yang senantiasa ramah, sering tersenyum, dan cepat akrab dengan siapa pun.
Ke mana pun ia pergi, almarhum selalu dikelilingi oleh banyak sahabat.
“Beliau itu selalu tersenyum. Di mana pun ia duduk, pasti langsung bisa akrab. Apabila sedang cuti, teman-temannya akan berdatangan dari berbagai penjuru,” ungkapnya.
Sejak tahun 2018, almarhum secara resmi bergabung sebagai prajurit TNI AD. Sebelumnya, Praka Satria harus mengikuti proses seleksi TNI AD sebanyak sembilan kali sampai akhirnya diterima.
Dengan nada bangga, Dominggus menyatakan, “Ia tidak pernah putus asa. Setelah sembilan kali mengikuti tes, barulah ia berhasil lulus.”
Bahkan, ketika acara pelantikan berlangsung di Bali, almarhum secara spesifik meminta kehadiran kedua orang tuanya.
Selain penugasan di Papua, Praka Satria juga pernah mengemban misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo selama satu tahun.
Di tengah suasana duka, Dominggus turut membeberkan bahwa almarhum sempat memiliki rencana untuk menikah pada tahun ini.
Pembicaraan mengenai pertemuan keluarga dengan orang tua dari calon istrinya bahkan telah diagendakan untuk pertengahan tahun.
“Kami sudah merencanakan pertemuan dengan keluarga calon pada bulan Juni,” ujarnya.
Berpulangnya Praka Satria Tino Taopan menyisakan kesedihan yang teramat sangat, bukan hanya untuk sanak keluarga, melainkan juga bagi rekan sejawat dan seluruh masyarakat yang mengenalnya.
Kendati demikian, bagi pihak keluarga, almarhum dianggap telah gugur sebagai seorang pahlawan, mendedikasikan hidupnya demi mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedatangan Jenazah Praka Satria Taopan di Kupang Disambut Tangisan Haru
Jasad Praka Satria Taopan telah tiba di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat malam, 9 Januari 2026.
Sosok yang lahir di Desa Erbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang ini, jenazahnya diberangkatkan dari Papua.
Petinya, yang terselimuti bendera Merah Putih, diangkut menggunakan pesawat Lion Air dan mendarat di Bandara El Tari pada Jumat pukul 23.45 Wita.
Anggota keluarga, teman dekat, serta kerabat lainnya menyambut kedatangan jenazah Praka Satria Taopan di Terminal Cargo Bandara El Tari.
Rasa haru begitu kuat menyelimuti Terminal Cargo. Derai tangis lantas memecah kesunyian malam.
Dari Terminal Cargo, peti jenazah yang dipikul oleh beberapa prajurit TNI kemudian ditempatkan ke dalam mobil ambulans.
Selanjutnya, mobil ambulans mengantarkan jasad Praka Satria Taopan menuju rumah duka yang berlokasi di Jalan Salak, RT 020 RW 008 Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa.
Konvoi kendaraan turut mengiringi mobil jenazah sampai tiba di kediaman duka.
Praka Satria Taopan meninggal dunia akibat luka tembak dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.
Almarhum adalah bagian dari anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan (Yonif 100/PS Dam I/BB).
Praka Satria Taopan, dengan Nomor Registrasi Pokok (NRP): 31180695780996, menjabat sebagai Tamudi/Pool 3 Ton Ang Kima Yonif 100/PS.
Pada Kamis, 8 Januari 2026, Praka Satria Taopan menderita luka tembak sewaktu terjadi kontak senjata di Kampung Tetmid.
Prajurit yang menjadi korban tersebut adalah putra dari pasangan Dominggus Taopan dan Dorkas Yohana.
Kedua orang tuanya saat ini tinggal di Jalan Salak RT 020 RW 008 Kelurahan Oepura.
Momen-momen Keluarga Menerima Berita Duka
Dominggus Taopan, ayah dari Praka Satria Taopan, menceritakan kembali momen-momen awal saat keluarga menerima informasi duka yang mengubah jalan hidup mereka.
Dominggus berbagi cerita bahwa sejak anak-anak mereka masih kecil, ia dan istrinya telah membiasakan mereka untuk menjalani hidup dalam ketakutan akan Tuhan.
Setiap pagi, tepat pada pukul 06.00 Wita, seluruh anggota keluarga selalu mengawali hari mereka dengan ibadah doa bersama.
Tradisi tersebut tetap lestari meskipun kedua putra-putri mereka telah mengabdi sebagai aparat negara, di mana seorang bertugas sebagai prajurit TNI di Papua dan satunya lagi sebagai anggota Polri di Ruteng.
Dengan suara bergetar pada Jumat (9/1), Dominggus mengungkapkan, “Setiap pagi Ibu selalu mengirimkan firman Tuhan melalui aplikasi WhatsApp. Hal itu sudah menjadi rutinitas dan tidak pernah terlewatkan.”
Akan tetapi, Kamis pagi tanggal 8 Januari 2026, terasa lain. Sang ibu tetap mengirimkan firman Tuhan seperti biasa.
Namun, pada kesempatan ini, hanya sang adik yang memberikan respons terhadap pesan itu. Praka Satria Taopan sama sekali tidak membalas.
Dominggus menuturkan, “Saya sempat memeriksa telepon genggam, adiknya sudah membalas, tetapi kakaknya belum. Kami mengira itu hal yang biasa.”
Tidak lama setelah kejadian itu, Dominggus bergegas menuju kantor. Ia bahkan mengakui bahwa pada pagi itu ia tidak sempat menyantap sarapan, sebuah kejadian yang cukup langka.
Di lingkungan kantor, nuansa perayaan Natal masih begitu kental, hingga tiba-tiba seorang rekan kerja mendekatinya.
Rekan kerjanya itu mendapatkan informasi dari sesama prajurit yang satu angkatan dengan Praka Satria.
Beliau mengungkapkan dengan suara perlahan, “Pukul delapan pagi saya menerima telepon. Ia menyampaikan, ‘Bapak, putra Bapak telah gugur dalam pertempuran’.”
Dominggus mengakui bahwa pada saat itu ia belum sepenuhnya mempercayai kabar tersebut. Ia kembali ke rumah mengendarai sepeda motor, dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipi.
Begitu tiba di kediaman, ia memberitahukan kabar duka tersebut kepada putranya yang berprofesi sebagai polisi.
Tangisan pun meledak. “Adiknya seketika menangis dan berseru, ‘Kakak telah gugur dalam medan pertempuran’,” ia mengisahkannya.