Roby Tremonti Menampik Tuduhan Kekerasan Terhadap Aurelie, Tantang Bukti: Mengapa Tak Lapor Pihak Berwajib?
Nama Roby Tremonti kini menjadi pusat perhatian khalayak ramai menyusul dugaan keterlibatannya dalam tindakan *child grooming* terhadap Aurelie Moeremans di masa lampau. Isu ini mencuat ke permukaan setelah terbitnya buku memoar Aurelie Moeremans yang bertajuk *Broken Strings*.
Dalam karya otobiografinya tersebut, Aurelie membeberkan kisah mengenai seorang pria yang ia samarkan identitasnya dengan nama Bobby, dituding sebagai pelaku *child grooming* serta kekerasan seksual yang meninggalkan dampak psikologis mendalam pada diri sang aktris. Petunjuk-petunjuk yang diuraikan oleh Aurelie dalam bukunya tersebut mengarah kuat pada sosok Roby Tremonti, terlebih mengingat keduanya pernah menjalin hubungan asmara yang sempat menjadi kontroversi di masa lalu.
Di tengah memanasnya berbagai spekulasi yang beredar, Roby Tremonti akhirnya buka suara dan tampil di hadapan publik guna memberikan penjelasan. Aktor berusia 45 tahun itu dengan tegas menyanggah tuduhan melakukan kekerasan terhadap Aurelie Moeremans. Ia bahkan mempersilakan bintang sinetron ‘Mantan Tapi Menikah’ tersebut untuk menunjukkan bukti konkret atas dugaan kekerasan yang berasal dari dirinya. Roby turut mempertanyakan alasan Aurelie yang tidak melaporkan insiden kekerasan tersebut kepada aparat kepolisian.
“Silakan dibuktikan,” tutur Roby, seperti dikutip dari kanal YouTube Reyben Entertainment pada Rabu, 14 Januari 2026. “Bukti menyebarkan foto telanjang itu mana sampai sekarang? Kenapa tidak melaporkan ke polisi?” lanjutnya.
Ketika disinggung mengenai upaya berkomunikasi dengan artis yang kini bermukim di Amerika Serikat itu, Roby Tremonti menyatakan bahwa dirinya tidak merasa perlu untuk melakukannya. “Jika saya berupaya menghubungi, nantinya akan kembali menjadi bahan perbincangan negatif.” “Apapun yang hendak saya konfirmasi pasti akan dipelintir. Oleh karena itu, menurut saya, tidak perlu,” terang aktor kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1980 ini.
**Roby Tremonti Mempertontonkan Dokumen Pernikahan dengan Aurelie Moeremans**
Roby Tremonti secara lugas mengonfirmasi bahwa ia pernah menikah dengan Aurelie Moeremans pada bulan Oktober 2011. Ikatan pernikahan tersebut terjadi saat Aurelie masih berusia 18 tahun. “Betul, saya pernah menikahi Aurelie Moeremans pada tanggal 10 Oktober 2011,” ujar Roby Tremonti ketika dijumpai di kediamannya di area Cibinong, Bogor, Jawa Barat, pada hari Selasa, 13 Januari 2026.
Tidak sekadar pengakuan lisan, Roby juga menampilkan sejumlah fakta nyata berupa dokumentasi foto-foto momen pernikahan mereka, termasuk akta nikah dengan latar belakang foto berwarna biru. Dengan adanya bukti-bukti ini, Roby menampik pernyataan Aurelie yang tertulis dalam buku *Broken Strings*, yang menyebutkan bahwa ia dipaksa untuk menikah dengannya. “Apabila melihat foto ini, tidak mungkin pernikahan itu terjadi karena paksaan. Kami menikah secara Katolik, yang prosesnya tidak semudah itu. Ini ada bukti undangan, surat pernikahan yang tercatat pada 10 Oktober 2011,” sambungnya.
Roby juga mengklarifikasi terkait klaim Aurelie yang menyebutkan pernikahannya hanya berlangsung selama satu hari. “Begini, pengurusan pernikahan itu tidak bisa selesai dalam sehari. Ada tahapan Kanonik, proses investigasi sebelum pernikahan yang dilakukan oleh pihak gereja. Mustahil bisa diselesaikan hanya dalam waktu sehari,” jelasnya. “Mengenai pembatalan pernikahan, Aurelie merasa memegang suratnya. Namun selama ini, saya tidak pernah dilibatkan dalam proses pembuatan surat tersebut,” tambahnya.
Roby Tremonti menekankan bahwa pernyataan yang ia sampaikan bukanlah bertujuan untuk menyerang Aurelie Moeremans, melainkan semata-mata untuk meluruskan fakta yang sebenarnya. “Saya tidak sedang membenarkan diri, melainkan ingin meluruskan fakta yang sebenarnya,” tegas Roby Tremonti.
Aurelie Moeremans sendiri menjadi sorotan luas setelah meluncurkan buku memoarnya berjudul *Broken Strings*. Dalam buku tersebut, ia mengaku pernah menjadi korban *grooming*. *Grooming* adalah tindakan manipulasi yang dilakukan oleh seseorang dengan membangun hubungan, kepercayaan, dan kontrol atas korbannya, dengan tujuan eksploitasi, termasuk pelecehan seksual. Umumnya, korban dalam kasus ini adalah anak di bawah umur.