Iran Bersumpah Hadapi Armada Tempur Trump, Khamenei Restui Perang Besar
Angkatan bersenjata Iran mengumumkan kesiapan tempur mereka sepenuhnya. Mayor Jenderal Amir Hatami, Panglima Angkatan Darat Iran, menyatakan bahwa kemampuan militer Iran telah menunjukkan peningkatan signifikan pasca “Perang 12 Hari” yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat di bulan Juni tahun sebelumnya. Menurut Hatami, pengalaman berhadapan dengan teknologi perang hibrida dari Barat pada tahun lalu telah menjadikan sistem pertahanan Iran sekarang menjadi “tidak bisa dihancurkan.”
Dirinya mengeluarkan peringatan tegas bahwa kesalahan perhitungan apapun dari pihak Amerika Serikat (AS) maupun Israel akan secara langsung berakibat fatal bagi keamanan kedua negara tersebut. “Setiap pergerakan musuh sepenuhnya berada dalam pantauan kami. Mengingat kami memahami betul niat jahat mereka, tangan kami senantiasa siap di pelatuk,” ujar Hatami saat menyampaikan pidato dalam sebuah upacara militer pada hari Sabtu.
**Memicu Konflik Regional Skala Besar**
Di tengah kian masifnya kehadiran pasukan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melontarkan peringatan keras terhadap Washington. Saat berpidato pada hari Minggu (1/2/2026), Khamenei secara gamblang menyatakan bahwa setiap bentuk agresi militer yang diawali oleh AS tidak akan berujung pada pertikaian berskala kecil, melainkan akan memicu perang dahsyat yang melahap seluruh wilayah. “Amerika wajib memahami, apabila mereka memulai peperangan kali ini, yang terjadi adalah konflik regional,” tegas Khamenei di hadapan ribuan masyarakat pada peringatan 47 tahun Revolusi Islam.
Pernyataan tersebut dilontarkan sebagai reaksi terhadap langkah Presiden Donald Trump yang terus memperkuat kehadiran kapal perang dan jet tempur di Teluk Persia, dengan dalih memberikan tekanan kepada Iran terkait perjanjian nuklir dan berbagai permasalahan dalam negeri.
Wilayah Timur Tengah mencakup berbagai negara di kawasan Asia Barat serta beberapa bagian Afrika Utara, dengan fokus geografis di sekitar Semenanjung Arab, Levant, dan Mesopotamia. Kawasan ini tersusun dari sejumlah negara Arab dan non-Arab, di antaranya adalah Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman.
**Prioritaskan Jalur Diplomasi**
Melalui perbincangan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggarisbawahi bahwa Iran sama sekali tidak pernah berhasrat untuk terlibat dalam konfrontasi bersenjata. “Iran senantiasa mengedepankan resolusi konflik melalui jalur diplomasi yang terhormat. Kami berharap pihak-pihak yang berlawanan memahami bahwa tekanan dan segala bentuk paksaan tidak akan pernah berhasil memaksa Iran untuk bernegosiasi,” tutur Pezeshkian.
Presiden Mesir mengutarakan dukungannya terhadap inisiatif ini, sekaligus memberikan peringatan bahwa krisis yang terjadi di Timur Tengah tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan militer. Dirinya berpendapat bahwa peningkatan ketegangan hanya akan berujung pada dampak buruk terhadap kestabilan dunia.
Konflik yang memanas saat ini adalah akibat dari perselisihan yang belum usai sejak tahun 2025. Pada bulan Juni tahun sebelumnya, Israel dan Amerika Serikat sempat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan lokasi militer Iran. Serangan tersebut kemudian direspons oleh Teheran dengan gempuran drone secara besar-besaran, serta penyerangan terhadap pangkalan AS yang berada di Qatar.
Hatami turut menyoroti adanya dukungan dari negara-negara tetangga yang kini memberlakukan blokade terhadap wilayah udara mereka, sehingga tidak dapat digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Dalam situasi demikian, Iran memosisikan diri sebagai penjaga keamanan di kawasan Asia Barat, seraya mengingatkan Washington bahwa kehadiran mereka justru menjadi faktor utama yang memicu gejolak di wilayah tersebut.